Jumat, 08 April 2011

Pesan Itu Sangat Kukenal

Hembusan angin yang membawa  jutaan molekul udara mengalir halus menelisik kalbuku. Tiupan pudarnya membuat kulit tubuhku sejuk. Ketika terik matahari menembus atap alumunium biru di kampus. Angin ini bak alunan melodi. Semakin ku rasakan nikmatnya hembusan, semakin tajam rombongan molekul yang dibawa. Sejenak aku berkonsentrasi dari penatnya hamburan masalah dan tanggung tawab yang masih menunggu.

Jiwaku masih sadar. Angin semakin kuat meniupkan tenaganya di sisi wajahku. Kupejamkan mata, dan bersyukur atas kesejukan yang diberikanNya. Tak jauh pikiranku malayang, seluruh indra bergidik mendengar alunan merdu. Alunan angin yang berbisik membawa pesan-pesan dari seberang. Pesan yang sangat kukenal, dan sering kudengar dulu. Terkejut kalbuku mendengarnya. Kuterima pesannya, pesan maya yang kurasakan. Hampa tapi nyata dalam benakku.

Jiwaku semakin sadar. Sampai-sampai seluruh kulit tubuhku kaku sejenak. Ku buka mata dan kulihat di ujung barat daya. Cahayanya terang sekali melebihi cuaca siang itu. Kini benakku sadar sepenuhnya, pesan itu nyata. Pesan yang sangat kurindukan, mengharap ridho-Nya.

Senin, 07 Februari 2011

Catatan Harian

Hari ini, pikiranq telah menuju pada puncak yang kompleks. Semua yang kurencanakan sejak awal tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jadwal yang sudah kususun rapi, jadi berantakan. Ini terjadi juga karena kesalahanq sendiri. Semua tidak kulakukan dengan niatan dan langkah yang benar-benar matang. Jadi untuk memperbaiki semuanya, harus mulai kususun langkah yang lebih matang lagi. Hari ini, Tulisanku yang kutuangkan dalam PKM Gt harus sudah mencapai pada bagian Gagasan. Berbekal data yang kukumpulkan tiga hari terakhir, harus kutelan semua dengan matang untuk mendapatkan analisis yang sevalid-validnya. Sehingga dapat memberikan solusi yang bermanfaat semaksimal mungkin.
Desen pembimbing uda dihubungi oleh partnerq, dan beliau bersedia membimbing kami. Ini merupakan salah satu langkah awalku untuk menjadi mahasiswa yang bermanfaat, dengan memberikan ide-ide yang semoga dapat meberi manfaat bagi bangsa. terutama rakyat Indonesia yang telah membawa aku berdiri di Universitas ini. Karena aq sadar, mahasiswa adalah pembawa asprasi rakyat. Karena mahasiswa adalah profil pemuda pembawa perubahan bangsa.
Dan yang paling utama adalah tanggung jawabku terhadap orang tua. Untuk apa aq berdiri di sini dengan mengatasnamakan anak dari orang tuaku, sedangkan tak ada yang bisa kutulis sejarah untuk mereka. Mending balik, daripada ngabisin uang. Bismillah, Semoga Allah meridhoi langkahq ini. Amin

Semangad...

Siap Menuju Bangsa yang Mandiri

Kamis, 3 Februari 2011, Presiden SBY menyatakan bahwa Bangsa Indonesia saat ini mampu berdiri tegak di hadapan IMF(Internasional Monetary Fund). Hal ini kaitannya dengan telah lunasnya utang-utang bangsa kepada Dana Moneter Internasional ini sejak 2006 silam. Hutang terhadap IMF yang dimiliki Indonesia itu terjadi pada 1998 untuk menyelamatkan rakyat dari jeratan Krisis Regional yang menyerang negeri ini. Dengan posisi tawar yang rendah, ternyata IMF dengan seenaknya mendikte dan memporandakan tatanan perekonomian Indonesia yang berujung pada kepentingan kapitalisme global.
“Indonesia kini mampu berdiri tegak di hadapan IMF,” jelas SBY saat membuka sidang kabinet paripurna seusai menerima rombongan IMF yang datang ke Jakarta, Rabu 2/2. Indonesia telah berhasil melunasi sisa utang sebesar 3,181 Miliar dolar AS sejak Oktober 2006.
Sikap tegas Pemerintah Indonesia ini patut diapresiasi. Pasalnya IMF  telah menaikkan suku bunga pinjaman sejak kuartal ketiga 2005, dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen. Akan tetapi, ketegasan Pemerintah ini belum cukup unutk menjamin kemandirian bangsa. Ketegasan janganlah hanya di hadapan IMF tetapi juga terhadap kepentingan global lain yang ujunya adalah untuk keuntungan semata.
Masih banyak kepentingan Kapitalisme global yang membuat nyali ciut pemerintah Indonesia. Lihat saja salahsatunya dalam pengeolaan Blok Minyak Cepu pada 2008. Meski Pertamina telah menyatakan siap pada saat itu, Pemerintah tetap memberikan pada Exxon. Akhirnya banyak manfaat Sumber daya Alam Indonesia ini yang diserap Bangsa Asing entah disadari oleh pemerintah atau tidak. Akibatnya nasib rakyat kecil yang tergadaikan. Saat ini hal yang serupa juga terjadi pada Natuna. Pertamina yang sejatinya sebagai Badan Usaha Milik Negara siap untuk mengelola, Tapi pemerintah lebih mempercayakan pada Perusahaan Asing yang bisa saja itu di picu karena adanya ketakutan Pemerintah untuk mandiri. Kalau memang mau menjadi bangsa mandiri, maka idealnya sikap tegas dapat di tunjukkan terhadap semua pihak yang alih-alih ingin mendapat keuntungan sepihak dari bangsa kita.
Langkah-langkah tegas pemeritah ini semoga benar-benar tulus dan memang harus dimulai sejak sekarang, mulai dari yang paling kecil. PR bangsa ini masih sangat banyak. Masih banyak Perusahaan pengelola Sumber Daya bangsa yang seharusnya menjadi sumsum kemakmuran rakyat dikuasai oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan sendiri.
Dan ingat kita sebagai pemuda bangsa yang akan memikul tanggungjwab besar bangsa ini, tingkatkan kualitas kita untuk menghadai Kehidupan Bangsa yang Mandiri.

Selasa, 18 Januari 2011

Rakyatku lebih suka yang kedua di Alun-alun Simpang Lima

Benarkah Indonesia adalah bangsa yang  terkenal dengan kekayaan Agrarisnya sejak jaman nenek moyang. Lihat saja sejarahnya sekitar empat abad yang lalu ketika bangsa ini menjadi daerah yang diperebutkan akan pioner rempahnya oleh bangsa Eropa. Sempat pula menjadi pusat perdagangan Asia. Namun, dari kejayaan itulah ternyata yang menarik perhatian si kulit putih untuk sedikit memutar otak mereka merayu si kulit sawo matang yaitu bangsa kita ini. Yang sebelumnya mengajak kerja sama, untuk selanjutnya ingin berkuasa. Tapi anehnya, mengapa sampai sekarang kita menjadi bangsa yang amat kagum ketika melihat si kulit putih? Inikah mental bangsa kita, mental akan sifat yang selalu kagum akan sesuatu. Tanpa ada keinginan dan upaya untuk menciptakan yang baru. Ya benar kitalah bangsa pengagum, kagum akan ciptaan orang lain. Lalu kapan kita bisa menciptakan sendiri yang jauh dari yang kita kagumi.
Inilah cerminan mental bangsa kita saat ini. Diakui atau tidak, mental seperti inilah yang sudah tumbuh dalam jiwa bangsa yang dahulu menjadi perebutan si kulit putih. Dan sekarang kita yang memperebutkan mereka. Apakah ini berarti kita sudah berhasil dibodohi, bukankah kita bangsa yang pintar? Atau bangsa yang mengaku-ngaku pintar? Pintar di Luar?
Coba tengok Ditengah Megapolitan Ibukota, tidak terlepas dari kehidupan manusia alakadarnya. Bahkan bisa dikatakan tidak layak untuk ukuran manusia yang sejatinya dilindungi haknya oleh negara. Jangan jadikan takdir sebagai alasan jika tidak sanggup mengupayakan kesetaraan. Dan ternyata Ibukota adalah sebagian kondisi yang terekspos.
Lihatlah saudaraku, satu pelajaran yang kupetik ketika berada dalam kegiatan rutinan di tengah Lapangan Simpang Lima Semarang. Kegiatan Cuci gudang pribadi yang mendapat apresiasi tinggi dari rakyat ini. Sorak gembiranya terlihat dari semangat mereka dalam memilah-milah untaian kain yang masih pantas mereka pakai. Kerena memang kocek yang akan mereka rogoh pun tak ada sepersepuluhnya ketika mereka masuk toko. Bukan karena tidak ada toko pakaian atau Mall besar di sana. Bahkan Tiga Mall besar mengelilingi Simpang tersebut. Matahari, Ramayana, Dan Citra Land tak kalah megah dibanding hijaunya lapangan simpang di minggu pagi itu. Akan tetapi si bapak dan si ibu, bahkan muda-mudi lebih hobi kesana ketimbang masuk Mall berpajak besar dengan lantainya yang licin.
Tak ada rasa canggung untuk memakainya. Asal jahitannya masih bagus dan warnanya belum memudar tak jadi masalah buat mereka. Selain jauh lebih murah, juga karena masih bagus, tinggal dicuci dan disemprot pewangi, sudah bisa melindungi dari panas matahari. Daripada kain-kain ini tidak berguna, lebih baik buat kami. Bahkan kalau ada yang beruntung dan jeli, baju bermerek bagus akan bis mereka pakai. Entah bekas artis, atau orang-orang bermobil itu. Bahkan keringat siapapun yang pernah menempel di baju ini, tak jadi masalah buat mereka.
Tawa mereka inilah yang membuat para penjual yang sebagian besar mahasiswa itu bersemangat dalam kegiatan rutin mingguan ini. Karena bisa saja jika kegiatan rutin ini ditiadakan, mereka mungkin tidak berganti model pakaian seperti mode trend anak-anak muda saat ini. Berbeda dengan Noni bermobil yang melintas di lingkaran jalan itu. Berbagai model pakaian bermerek di dalam etalase lah yang menjadi pilihan mereka. Karena memang Koceknya tebal, dan kulitnya pun tak ada kuman yang berani menyentuh dibandingkan yang memilih masuk dalam riuhnya lapangan hijau tadi. Lagi-lagi alasannya adalah karena si kaya bisa membeli, dan  si miskin lebih suka yang kedua, karena tak ada dana.
Lalu apakah mental seperti inikah yang akan kita budayakan dalam bangas kita. Bahkan Tak jarang si kaya juga menyukai yang kedua. Yaitu menjadi yang kedua dalam meniru sifat-sifat pendahulunya. Sifat ingin jaya sendiri, dengan dalih rakyat miskin yang seharusnya mereka lindungi. Setara itu sendiri sekarang juga menjadi slogan dalam visi tertentu. Tapi benarkah ada upaya akan Kesetaraan itu?
 Upaya ini tidak akan pernah terwujud tanpa adanya dukungan sikap mental Si kaya dan Si miskin yang sudah berkembang sampai saat ini. Kalau memang mau setara, seharusnya perbedaan pelayanan umum di semua instansi juga dihapuskan. Hak berpendidikan tidak hanya untuk yang mampu membayar, karena semua adalah setara anak bangsa yang dilahirkan di tanah Indonesia. Anak bangsa yang akan menjadi pemuda bangsa. Pemuda yang menjadi cerminan bangsa. Pemuda inilah yang sejatinya akan menjadi penerus kursi di belakang meja. Tapi jangan hanya menjadi penerus yang kedua, yang hanya meniru mental-mental penguasa. Karena sadarilah bahwa bangsa kita ini butuh PEMBAHARU...